Bogor, Infobogor.net – Pasca peresmian gedung Kantor Kelurahan Sukaresmi yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Bogor saat itu, Dedie A. Rachim pada Kamis (18/12/2025) lalu, Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal terus bergerak membenah diri.

Langkah strategis, potensi, hingga tantangan kewilayahan dipaparkan secara mendalam oleh Lurah Sukaresmi, Yayan Hariansyah, pada Kamis (21/5/2026).

​Kelurahan yang memiliki luas wilayah sekitar 98 hektare ini berada di posisi geografis yang cukup unik. Sukaresmi tercatat berbatasan langsung dengan wilayah Cilebut Timur dan Cilebut Barat (Kabupaten Bogor), serta menjadi koridor lintasan yang mempertemukan wilayah Bogor Utara dan Bogor Selatan di beberapa titik batas jembatan.

​Dalam pemaparannya, Yayan Hariansyah menjelaskan mengenai gambaran umum kewilayahan Sukaresmi yang secara historis terbentuk dari dinamika pemekaran wilayah antara Kabupaten dan Kota Bogor pada medio 2001–2002 silam.

Saat ini, wilayah yang mencakup 8 Rukun Warga (RW) tersebut dihuni oleh jumlah penduduk yang relatif efisien dengan karakteristik non-industri.

​”Sukaresmi ini bisa dikatakan bukan wilayah industri dan jasa makronya besar. Hanya ada beberapa sektor usaha mikro masyarakat yang tumbuh, salah satunya wilayah kami ini terkenal dengan Kampung Tongkol atau Kampung Cue yang menjadi salah satu penggerak ekonomi warga lokal,” ujar Yayan Hariansyah, Kamis (21/5/2026).

​Yayan menggarisbawahi bahwa media massa memegang peranan yang sangat krusial dalam menyebarluaskan program-program kerja pemerintah kelurahan kepada masyarakat luas secara berimbang. Hubungan kemitraan yang sehat antara birokrasi dan jurnalisme dinilai mampu meminimalisir sumbatan informasi.

​Keterbukaan informasi tersebut menurut Yayan telah ia rintis secara konsisten selama kurang lebih tiga tahun berjalan, terutama dalam mengomunikasikan program-program mendasar bagi masyarakat seperti pentingnya sektor pendidikan, kebudayaan, hingga sosialisasi administrasi kependudukan.

​Lurah Sukaresmi tersebut menegaskan bahwa kehadiran rekan media sangat dibutuhkan dalam menyeimbangkan arus informasi kewilayahan. Menurutnya, sebuah informasi publik yang sehat tidak dapat terbangun dengan baik tanpa adanya proses konfirmasi dan verifikasi yang jelas dari media massa.

​Pemerintah Kota Bogor secara berkala terus melakukan rehabilitasi dan penataan prasarana di Sukaresmi guna meningkatkan indeks kebahagiaan warga sekaligus pelayanan publik yang prima.

Saat ini, wilayah Sukaresmi diproyeksikan sebagai pusat pengembangan fasilitas publik, ruang terbuka hijau (RTH), dan ekowisata alam.

​Terdapat dua titik strategis yang kini menjadi andalan utama penataan wilayah di Kelurahan Sukaresmi:

​Taman Lingkungan Graha Grande: Difungsikan sebagai fasilitas interaksi sosial, sarana olahraga, dan pusat aktivitas luar ruangan bagi warga sekitar.

​Ekoriparian Sukaresmi: Optimalisasi koridor di sisi Sungai Ciliwung yang dikembangkan menjadi kawasan wisata alam terbuka berbasis edukasi lingkungan hidup dan rekreasi terpadu.

​Untuk memaksimalkan potensi tersebut, pihak kelurahan juga aktif menjalin sinergitas lintas sektoral.

“Kami juga membangun kolaborasi dan kerja sama dengan instansi eksternal, salah satunya dengan Kementerian Pertanian, guna menjaga kelestarian lingkungan sekaligus pemanfaatan lahan produktif di sekitar bantaran sungai,” kata Yayan menjelaskan skema kerja samanya.

​Di balik potensi ekowisatanya yang besar, Sukaresmi dihadapkan pada tantangan operasional harian yang cukup pelik, terutama dari sektor pemenuhan jumlah personel aparatur kelurahan.

Minimnya jumlah staf struktural memaksa beberapa pegawai harus mengemban tugas ganda (double job) demi memastikan roda pelayanan publik tetap berjalan.

​Masalah keterbatasan SDM ini kian krusial mengingat kondisi geografis Sukaresmi yang dilintasi aliran sungai, yang secara otomatis meningkatkan indeks kerawanan terhadap potensi bencana alam di musim penghujan.

​Yayan mengungkapkan bahwa kekuatan personel staf di kelurahan saat ini dirasa masih kurang untuk mengimbangi dinamisnya pelayanan, terutama saat harus menangani kedaruratan bencana. Ketika terjadi bencana alam di lapangan, pihak kelurahan setidaknya harus menerjunkan sekitar 10 hingga 12 personel Satlinmas secara langsung untuk melakukan penanganan dan evakuasi awal.

​Selain urusan mitigasi bencana, aparatur kelurahan juga dituntut dinamis dalam menjalankan fungsi fasilitator dan mediasi warga. Beberapa dinamika sosial yang sering ditangani langsung di Kantor Kelurahan di antaranya adalah mediasi sengketa tanah, penataan zonasi perencanaan visual kewilayahan yang kini mulai dialihkan ke sistem digital, hingga penyelesaian problem kepengurusan internal perumahan seperti di klaster GCC (Green Clebut Cluster).

​Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan sosial di luar kerangka anggaran formal pemerintahan, Kelurahan Sukaresmi memiliki program kemitraan berbasis swadaya masyarakat yang sifatnya tidak mengikat.

​Jika program santunan sosial pada umumnya hanya dilakukan secara berkala pada momentum hari-hari besar keagamaan, Kelurahan Sukaresmi mendobrak kebiasaan tersebut dengan menyalurkannya secara rutin setiap bulan demi menjamin keberlangsungan hidup anak-anak yang membutuhkan.

​Lurah Sukaresmi, Yayan Hariansyah menerangkan bahwa program sosial kemasyarakatan tersebut saat ini menyasar sebanyak 137 anak yatim piatu dan kaum dhuafa yang tersebar di seluruh wilayah 8 RW.

Melalui bantuan swadaya ini, kebutuhan dasar seperti pemenuhan biaya sekolah anak yatim dapat disokong secara berkala agar mereka tidak putus sekolah.

​Melihat letaknya yang strategis dan laju pertumbuhan penduduk yang terus bergerak, Kecamatan Tanah Sareal termasuk di dalamnya Kelurahan Sukaresmi kedepannya diproyeksikan memiliki peluang strategis dalam kajian penataan dan pemekaran wilayah guna mengoptimalkan keterjangkauan pelayanan bagi seluruh lapisan masyarakat Kota Bogor.(Sally)