Bukan Sekadar Hijaukan Kota, FMP 2026 Bidik Kemandirian Ekonomi Tempat Ibadah Lewat Pohon Alpukat

Bogor,Infobogor.net – Panitia Festival Merah Putih (FMP) 2026 menghadirkan terobosan baru dalam peringatan tahun ke-11 penyelenggaraannya. Bukan sekadar merayakan keberagaman dan nasionalisme, FMP tahun ini resmi meluncurkan program wakaf pohon alpukat varietas Miki yang ditujukan bagi rumah ibadah serta fasilitas sosial di seluruh wilayah Kota Bogor.
Langkah inovatif ini dirancang sebagai investasi hijau jangka panjang guna mendorong kemandirian ekonomi tempat-tempat ibadah melalui hasil panen yang bernilai jual tinggi.
Inisiatif berkelanjutan tersebut ditandai dengan penanaman pohon secara seremonial di area Masjid Agung Kota Bogor pada Jumat (8/8/2026). Program hibah hijau ini dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan kemerdekaan hingga 31 Agustus 2026.
Ketua Panitia FMP 2026, Syahril M. Said, menegaskan bahwa gerakan ini tidak sebatas membagikan bibit tanaman, melainkan menerapkan sistem pendampingan penuh. Pengurus rumah ibadah yang berminat cukup mendaftarkan lahannya, lalu tim teknis FMP akan turun langsung melakukan survei kelayakan sebelum proses penanaman dilakukan.
”Kami tidak sekadar memberikan pohon untuk ditanam sendiri oleh warga. Kami yang akan menanamnya setelah melihat kondisi sekitar lahan,” ujar Syahril, Sabtu (8/8).
Pemilihan varietas alpukat Miki bukan tanpa alasan. Selain dinilai sangat adaptif dengan iklim dan ketinggian geografis Kota Bogor, alpukat Miki memiliki nilai ekonomis yang sangat menjanjikan. Di tingkat supermarket, harganya mampu menembus Rp70.000 per kilogram. Jika diasumsikan harga di tingkat petani berkisar Rp35.000 per kilogram, potensi ekonomi dari satu pohon dewasa yang mampu memproduksi 200 hingga 300 kilogram buah bisa mencapai Rp7 juta hingga Rp10,5 juta.
Bahkan pada usia produktif puncak (6–7 tahun), satu pohon alpukat diperkirakan mampu menghasilkan hingga 500 kilogram buah. Menariknya, pohon ini sudah mulai belajar berbuah pada usia dua tahun dengan potensi panen awal mencapai 50 kilogram.
Pada tahap awal, FMP membidik sekitar 30 persen dari total 990 lebih rumah ibadah yang terdata di Kota Bogor. Seluruh hasil panen dipastikan menjadi hak penuh pengurus rumah ibadah tanpa ada pemotongan atau bagi hasil untuk pihak panitia.
Untuk menjamin keberlangsungan program, FMP menyiapkan skema pemantauan berkala, bantuan suplai pupuk jika terjadi kendala perawatan, hingga pemberian penghargaan bagi rumah ibadah yang dinilai paling merawat pohonnya dengan baik.
Melalui program ini, FMP ingin memberikan aset produktif yang manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat luas.
”Ini adalah bentuk hibah kami kepada rumah-rumah ibadah. Kami menghibahkan tongkat dan pancingnya, bukan sekadar memberikan ikannya,” pungkas Syahril.(Sally)







Tinggalkan Balasan